Digital clock - DWR

Monday, November 21, 2011

tari belibis


PENDAHULUAN :
          Observasi berarti pengamatan. Observasi sebuah tari daerah setempat artinya melakukan pengamatan/mengamati sebuah tari daerah setempat. Hal-hal yang perlu diamati dari sebuah tari yaitu :
ü Cerita apa yang diceritakan dalam tari tersebut?
ü Apakah fungsi tari tersebut?
ü Dari penyajiannya termasuk kedalam jenis tari apa?
ü Adakah musik yang mengiringi? Jika ada sebutkanlah apa saja alat musik yang digunakan!
ü Bagaimanakan tata busana dan gerakannya?
ü Dimana letak unsur keindahan tari tersebut?
Untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita dapat lakukan dengan cara mengamati dan mencari tahu mengenai seluk-beluk tari tersebut.  

1.1  Latar belakang
Kami menyusun laporan ini untuk membantu/mempermudah kita semua dalam mempelajari seni budaya khususnya seni tari. Dengan kita mempelajari seni budaya khususnya seni tari, maka kita akan mendapat tambahan ilmu mengenai tari-tari yang ada di Indonesia khususnya Bali dan dapat mengetahui cerita dari suatu tari yang dituangkan melalui gerakan-gerakan yang indah.

1.2  Tujuan
Supaya kita semua mengerti dan mengetahui bahwa suatu tari yang diciptakan sebenarnya memiliki sebuah arti/cerita yang dikemas dengan indah melalui gerakan-gerakan sederhana tetapi mengandung arti dan tari tidak dapat diciptakan oleh sembarangan orang yang tidak memiliki ahli di bidang seni tari.




TARI BELIBIS

         
Tari Belibis berdasarkan bentuk penyajiannya dimasukkan ke dalam “tari kelompok”, karena ditarikan oleh lebih dari tiga orang penari. Tari ini, merupakan tari yang berfungsi sebagai tari pertunjukan yang sengaja digarap untuk dipertontonkan kepada masyarakat luas, karena tari ini lebih menitikberatkan pada segi artistiknya, penggarapan koreografinya yang matang, serta memiliki tema dan tujuan yang jelas.
          Tari Belibis diciptakan pada tahun 1984 oleh N.L.N. Swasthi Wijaya Bandem (koreografer) dan iringan tabuhnya diciptakan oleh I Nyoman Windha. Tari kreasi baru ini, menggambarkan kecantikan dan keindahan sekelompok burung belibis yang dengan riangnya mereka menikmati keindahan alam sekitarnya. Tema tarian ini diambil dari cerita Anglingdharma yang mengisahkan disihir/dikutuknya raja Anglingdharma oleh istrinya yang sakti (dalam cerita Tantri) menjadi seekor burung belibis.
          Setelah raja Anglingdharma menjadi seekor burung belibis, ia kemudian melakukan pengembaraan untuk dapat bersua dengan sekelompok burung belibis lainnya. Kemudian ia melihat sekelompok burung belibis yang sedang bercanda dengan riang lalu timbullah keinginannya untuk dapat bergabung dengan belibis-belibis itu. Tetapi, pada saat raja Anglingdharma mendekati sekelompok burung belibis tersebut. Mereka tiba-tiba terkejut karena mendengar (raja Anglingdharma) yang telah terkutuk menjadi belibis itu berbicara seperti manusia, sehingga mereka menolaknya untuk dapat bergabung dengan mereka. Sekelompok burung belibis itu kemudian pergi dan meninggalkan Raja Anglingdharma sendiri.








   I. Keunikan Gerak Tari Belibis
Gerakan tari tidak hanya berhubungan dengan kelenturan tubuh, tapi juga berhubungan dengan tenaga yang digunakan. Ada gerakan tari yang perlu tenaga ringan dan halus, ada juga gerakan tari yang perlu tenaga kuat dan keras. Gerakan tari setiap tarian pasti memiliki keunikan tersendiri.
1)    Gerakan Kepala dan Leher
Gerakan kepala dan leher pada tari belibis sangat bervariasi ; ada yang gerakan leher yang ke kanan dan kiri tapi kepala dan arah pandangan mata tetap ke depan (ngileg), ada juga gerakan leher yang patah-patah ke kanan maupun ke kiri dimana kepala dan arah pandangan mata juga mengikuti gerakan leher, ada gerakan kepala yang menunduk sejenak yang di dahului pandangan mata lalu kepala tegak kembali (pacak gulu gagah).
2)    Gerakan mata
Pandangan mata dilakukan tanpa menoleh, tapi mata melirik seolah-olah melihat ujung alis (nyeledet).
3)    Gerakan tangan
Gerakan tangan pada tari belibis sangat unik, dimana pada saat ngagem misalnya ngangem kanan tangan kanan ditinggikan hampir sejajar dengan kepala dan ditekuk sedikit dimana jari-jari tangan sampai pergelangan tangan di tekuk ke belakang sedangkan tangan kiri hampir sejajar pinggang dan sedikit ditekuk sama seperti tangan kanan. Ada gerakan tangan yang diluruskan ke bawah dan agak di buat miring sedikit dilakukan pada saat akan ngeseh.
4)    Gerakan kaki
Gerakan kaki cukup cepat pada saat pertama mulai menari dan menjinjit, ada gerakan kaki silang, ada pula gerakan lompat dimana kaki ditekuk terlebih dahulu, kaki kanan bersimpuh tetapi kaki kiri ditekuk sampai kaki sejajar dengan lutut.







    II.            Iringan Musik Tari Belibis

Karya tari pada dasarnya terdiri dari (2) unsur yaitu; tari sebagai unsur gerak sedangkan musik sebagai unsur bunyi. Tari tidak akan lengkap tanpa ada iringan musiknya, karena dengan musik ungkapan yang akan disampaikan melalui pesan tari akan lebih mudah tersampaikan.
Berikut ini alat-alat musik yang mengiringi tari belibis :
1.     Gangsa,                               6. Suling,
2.     Cengceng,                           7. Kendang,
3.     Reong,                                8. Gong,
4.     Kempur,                             9. Jegogan,
5.     Penyahcah,                         10. Kajar,
Musiknya mengikuti irama gerakan tari belibis yang lincah dan agresif seperti gerakan burung belibis yang sedang bersuka cita menikmati keindahan alam sekitarnya. Alunan musiknya keras dipadu dengan alus, sehingga enak untuk didengarkan. Iringan musiknya membuat semangat bagi para penari dan yang menontonnya. Dengan adanya iringan musik dapat mempertegas ekspresi gerakan si penari dan member gambaran serta ilustrasi suasana yang terdapat di dalam tarian belibis tersebut.








 III.            Tata Busana Yang Digunakan Pada Tari Belibis
Tata busana merupakan salah satu unsur terpenting dalam pementasan tari. Dengan busana yang dikenakan pada saat pementasan tari akan mempertegas karakter yang diekspresikan oleh penari, memperindah penanpilan penari, sehingga orang melihat / menontonya dapat membedakan suatu tarian yang satu dengan yang lainnya.
Berikut ini perlengkapan /aksesoris yang digunakan dalam tarian belibis yaitu:
1.     Di kepala aksesoris yang digunakan adalah gelungan,
2.     Di telinga aksesoris yang digunakan adalah subeng,
3.     Di leher aksesoris yang digunakan adalah badong,
4.     Di badan aksesoris yang digunakan adalah kain, sabuk,selendang
5.     Di tangan aksesoris yang digunakan adalah ampok –ampok  pada pergelangan tangan, dan pada lengan atas  
6.     Di pinggang sampai bagian bawah menggunakan kain songket

Keunikan tata busana tarian belibis, karena tariannya menggambarkan kisah sekelompok burung belibis yang sedang menikmati keindahan alam sekitarnya yang kemudian di kejutkan dengan kedatangan seekor burung belibis lainnya yang ingin bergabung dengan mereka, karena belibis itu dapat berbicara seperti manusia akhirnya ia di tolak untuk bergabung. Jalan cerita yang begitu menarik membuat tarian belibis ini semakin terasa indah untuk ditonton dengan paduan busana yang menarik.











IV.            Gerakan Estetis Pada Tari Belibis

Menurut kami, keindahan yang terdapat dalam gerakan tari belibis yaitu :
a)     Pada saat penari akan menyambut kedatangan penari satunya sambil berhadapan dan membentuk lingkaran dengan badan menunduk dan merapat dimana kepala para penari saling berdekatan.
b)    Pada saat penari melakukan gerakan ngangem, gerakannya sangat unik misalkan ngagem kanan dimana jari-jari tangan dibawa ke belakang.
c)     Pada saat akhir-akhir tarian, ada gerakan tangan yang membentuk garis miring dimana tangan kanan diatas dan tangan kiri dibawah sambil berjalan mudur sekelompok penari menjauhi penari yang satunya.
d)    Pada saat penari menggunakan selendangnya, membentuk seperti sayap burung belibis.




















Thursday, November 17, 2011

tugas


1.      Contoh alat  musik Chondrophone (petik)
Contoh : Rebab



·         Cara membuat Rebab :
Bagian : Toko
Ciri-ciri dan fungsi: Diperbuat daripada kayu nangka. Berukuran 25 cm x 20 cm x 15 cm. Mempunyai ketebalan 8 cm.
Cara pembuatan: Batang pokok nangka akan ditebang dan diketam untuk melicinkan permukaannya. Kemudian dipahat sehingga menjadi seperti bentuk tempurung. Toko akan ditutup dengan kulit usus lembu yang telah dikeringkan dan digam untuk mengelakkannya tertanggal ketika dimainkan.

Bagian : Kepala
Citi-ciri dan fungsi : Diperbuat daripada kayu pokok tembusu. Berukuran antara 45 hingga 55 cm.
Cara pembuatan: Pemulas tali rebab diperbuat daripada kayu pokok sena dan berukuran 13 sentimeter setiap satu. Kayu akan dilarik mengikut bentuk dan motif yang diingini.

Bahagian : Batang
Ciri-ciri dan fungsi : Diperbuat daripada kayu tembusu. Panjangnya ialah 30 sentimeter.
Cara pembuatan : Bahagian atas digunakan sebagai perenggang dan berukuran 28 sentimeter. Kayu dilarik mengikut bentuk yang diingini.

Bagian : Tumit
Ciri-ciri dan fungsi : Berukuran 10 sentimeter. Diperbuat daripada kayu pokok sena. Ia berfungsi untuk menyokong keseluruhan alat muzik ini.

Bagian : Penggesek
Ciri-ciri dan fungsi : Diperbuat daripada kayu belimbing kerana ia lembut dan mudah dilengkungkan. Menggunakan tali tangsi yang berbeda saiz setiap satunya (halus, sederhana, besar).


·    Alasan Rebab disebut instrument chondrophone
Instrumen yang sumber bunyinya berasal dari dawai.


·    Cara memainkan

  • Secara tradisional pengrebab duduk bersila ( bahasa jawa: sila ),
  • pandangan kedepan,
  • sikap tegap ( tidak ndungkruk ),
  • polatan tajem tidak nolah-noleh.
  • Didalam melaksanakan tugas pengrebab selalu memusatkan perhatian pada sajian gendhing dan selalu mengingat akan fungsi dan tugas rebab dalam hubungannya dengan balungan gendhing serta suara rebab ( tidak blero,sliring ).
  • Rebab tegak ( jejeg ) apabila menggesek kedua kawat
  • Rebab serong kekanan apabila menggesek satu kawat kiri
  • Rebab serong kekiri apabila menggesek satu kawat kanan


2.      Contoh alat musik Aerophone (ditiup)

Contoh : Suling


·         Cara Membuat
Suling sebagaimana dijelaskan dalam Kamus Musik adalah flute tradisional yang umumnya terbuat dari bambu (Banoe, 2003:). Secara fisik, suling yang terbuat terbuat dari bambu memiliki 6-7 lobang nada pada bagian batangnya dan lubang pemanis (song manis) pada bagian ujungnya. Sebagai salah satu instrumen dalam barungan gamelan Bali, terdapat berbagai bentuk ukuran dari yang panjang, menengah dan pendek. Dilihat dari ukurannya tersebut, suling dapat dibedakan jenisnya dalam beberapa kelompok yaitu: Suling Pegambuhan, Suling Pegongan, Suling Pearjan, Suling Pejangeran dan Suling Pejogedan (Suharta, 2005:16). Dari pengelompokan tersebut masing-masing mempunyai fungsi, baik sebagai instrumen pokok maupun sebagai pelengkap. Penggunaan suling sebagai instrumen pokok biasanya terdapat pada jenis barungan gamelan Gambuh, Pe-Arjan, Pejangeran dan Gong Suling. Sedangkan pada beberapa barungan gamelan lainnya termasuk gamelan gong kebyar suling berfungsi sebagai instrumen ”pemanis” lagu dan memperpanjang suara gamelan, sehingga kedengarannya tidak terputus (Sukerta, 2001:215). Dalam fungsinya itu, suling hanya menjadi instrumen pelengkap dalam arti bisa dipergunakan ataupun tidak sama sekali.

·         Alasan Suling disebut sebagai alat musik tiup Aerophone (ditiup)
Kareana cara memainkan suling dengan ditiup

·         Cara memainkan
Sebagai salah satu alat musik tradisional, suling tergolong alat musik tiup (aerophone) dimana dalam permainan karawitan Bali dimainkan dengan teknik ngunjal angkihan yaitu suatu teknik permainan tiupan suling yang dilakukan secara terus menerus dan memainkan motif wewiletan yang merupakan pengembangan dari nada-nada pokok atau melodi sebuah kalimat lagu.selain ituuntuk mendapatkan nada yang tepat dalam memainkan instrument suling Bali
disamping tehnik tiupan, harus disertai dengan teknik tutupan jari tangan pada setiap lubangnya yang lazim disebut tatekep. Dalam suling gambuh yang merupakan suling memiliki ukuran paling besar dan panjang diantara suling Bali, dengan beberapa tatekep yang dapat dimainkan seperti: tatekep selisir, tembung, sundaren, baro dan lebeng.

3.      Alat musik  pukul (Idiophone)

a.       Bernada Berbilah
Contoh : Gangsa
·         Cara Membuat
Alat ini terdiri dari beberapa daun logam yang berjumlah sepuluh, setiap bar diletakkan di atas sebuah resonator individu. Bar yang dipukul dengan palu (panggul) , masing-masing menghasilkan suara atau bunyi yang berbeda. Durasi intensitas bunyi dan faktor kualitas suara umumnya dilakukan dengan redaman getaran bar dengan jari-jari tangan bebas.
Untuk instrumen yang berbilah seperti bilah metundun klipes, metundun sambuk, setengah penyalin dan bulig terdapat dalam instrumen gangsa jongkok penunggal, jongkok pengangkem ageng, dan jongkok pengangkep alit (curing). Instrumen-instrumen ini bilahnya dipaku atau sering disebut dengan istilah gangsa mepacek. Sedangkan bentuk bilah yang diistilahkan merai, meusuk, dan meakte terdapat pada instrumen pengacah, jublag, dan jegogan. Instrumen-instrumen ini bilahnya digantung yaitu memakai tali seperti jangat
·         Alasan Gangsa disebut sebagai alat idiophone

Karena menainkannya dengan cara dipukul



·         Cara bermain
. Tategak: Sikap memainkan gamelan Bali memiliki makna yang sangat penting. Tidak hanya menyangkut kajian estetik keindahan, akan tetapi bagaimana energi disalurkan ketika memainkan gamelan. Posisi duduk seorang pemain gamelan ideal yaitu mengambil posisi silasana yaitu
posisi duduk dimana kaki dilipat tertumpuk (kanan dan kiri) sedangkan posisi badan tegak, dan pandangan kedepan  Dengan posisi yang benar dapat mendukung penampilan dan secara estetik tertata
adanya. Aspek penampilan menjadi sangat besar pengaruhnya terhadap sebuah pementasan karena tanpa didukung oleh penampilan yang baik dan apik serta mempertimbangkan aspek keindakan akan tidak tercapai kaidah pertunjukan yang ada seperti: kompak, harmonis, selaras serasi dan seimbang. Sisi lain dari posisi duduk yang benar dapat memberikan energi yang penuh/total, sebab secara penyaluran energi yang seimbang keseluruh tubuh dapat menyebabkan kualitas pukulan terjaga intensitasnya.

Posisi tangan: Untuk dapat memainkan gamelan secara baik tentunya memegang panggul harus diperhatikan. Posisi tangan yang benar untuk memainkan instrument berbilah adalah tangkai panggul dipegang oleh tangan kanan dengan ibu jari berada sejajar dengan tangkai panggul bagian lebarnya, sedangkan keempat jari lainnya posisi terlipat (lihat gambar). Sedangkan untuk memainkan instrument berpencon posisi tangan mengikuti arah panggul, sedangkan telunjuk tanpa dilipat. Begitu juga pada instrument
lainnya.

Menutup/tatekep: Barungan Gong Kebyar merupakan seperangkat gamelan yang memiliki instrumentasi yang sangat banyak. Hampir 30 -40 buah instrument yang sebagian besar merupakan instrument perkusif. (dipukul). Tehnik-teknik tersebut menyebabkan setiap kelompok instrument memiliki bunyi dan warna nada yang berlainan. Instrumen-instrumen Gong Kebyar yang dimainkan secara dipukul baik memakai tangan maupun memakai alat pemukul/panggul dalam gamelan Bali lazim disebut gagebug.


b.      Bernada tidak berbilah
Contoh :Trompong
·         Cara Membuat
. Membuat trompong merupakan suatu pekerjaan yang membutuhkan keterampilan dan
keahlian yang khusus dan biasanya dimiliki oleh pande gamelan, dan dalam prosesnya
mempergunakan cara-cara dan alat-alat yang masih bersifat tradisional. Meskipun teknologi
telah mengalami perkembangan yang tidak bisa dipungkiri mampu mempengaruhi cara kerja
pande gamelan yaitu dengan dipakainya alat-alat yang merupakan hasil teknologi modern,
namun teknologi tersebut hanya mampu mempengaruhi sebagian kecil dalam pekerjaan
membuat gamelan di Desa Tihingan.
Pembuatan Trompong Gong Kebyar di Desa Tihingan dilakukan dengan dua sistem
yaitu: pembuatan trompong dengan menggunakan cara sangat tradisional atau istilahnya
gegarap dresta kuna” dan pembuatan Trompong Gong Kebyar dengan cara modern.
Gegarap dresta kuna adalah pembuatan trompong yang dilakukan dengan tidak
mempergunakan alat-alat modern atau yang berupa mesin praktis yang merupakan hasil
teknologi, sedangkan pembuatan trompong yang mempergunakan cara modern adalah
kebalikan cara di atas yaitu sudah dipakainya alat-alat hasil teknologi. Pembuatan trompong
dilihat dari tempat pengerjaan dibagi menjadi dua yaitu: proses di dalam prapen dan proses di
luar prapen. Proses yang dilakukan di dalam prapen meliputi tahap peleburan dan
pembentukan, sedangkan di luar prapen meliputi tahap pembersihan, pelarasan dan finishing.
1. Pembuatan Trompong Gong Kebyar dengan Cara Dresta Kuna
Pembuatan Trompong Gong Kebyar dengan cara dresta kuna pada dasarnya
merupakan teknik pembuatan trompong dengan pengerjaan yang sangat apik dan hati-hati,
karena dalam teknik ini lebih mementingkan hasil yaitu memperoleh trompong dengan
kualitas yang bagus dari segi suara maupun dari segi kekuatan. Prosesnya yang pelan
membutuhkan waktu yang lama, sehingga dalam satu hari hanya dapat menyelesaikan 1 buah
trompong saja. Jumlah atau hasil tidak menjadi ukuran kesuksesan dalam sistem kerja ini
melainkan kualitas trompong yang bagus merupakan tujuan utamanya.
Dresta kuna merupakan cara pembuatan trompong di Desa Tihingan yang merupakan
sebuah warisan dari nenek moyang mereka dari abad ke 18 atau pada masa kejayaan Dalem
Sweca Pura di Kabupaten Klungkung.1 Konon merupakan cara kerja hanya satu-satunya pada
masa itu dan menjadi andalan dalam membuat gamelan, cara/teknik ini dipergunakan pada
masa itu karena pesanan gamelan masih sedikit, sehingga dalam melakukan pekerjaan selalu
mengutamakan kualitas, meskipun memakan waktu lama tidak menjadi masalah. Cara
tersebut berkembang dan masih dipertahankan pada masa sekarang ini.
Membuat Trompong Gong Kebyar pertama kali yang dilakukan adalah melakukan
persiapan. Hal ini penting dan wajib dilakukan demi mendapatkan kelancaran dalam
melakukan pekerjaan. Persiapan yang dilakukan meliputi menyiapkan alat-alat yang akan
dipakai dalam proses pekerjaan, berkoordinasi kepada semua pekerja atau karyawan karena
satu pun pekerja yang absen maka pembuatan trompong tidak bisa dilakukan, menentukan
hari yang baik atau dewasa ayu dan menghindari hari yang buruk dalam memulai pekerjaan.
Mencari hari yang baik dalam membuat gamelan bertujuan untuk mendapatkan restu dan
perlindungan atau keselamatan dari Yang Maha Kuasa, sehingga pekerjaan yang dilakukan
bisa berjalan lancar dan memperoleh hasil yang baik, disamping hal ini berpengaruh pada
suara dan kekuatan/ketahanan gamelan dari segi usia, kita pun bisa bekerja dengan perasaan
1 Berdasarkan keterangan I Wayan Widnya saat wawancara pada tanggal 20 Mei 2010 di Tihingan,
Klungkung, serta diperkuat oleh pengerajin di Desa Tihingan.
tenang. I Wayan Widya,2 seorang pande gamelan mengatakan “ yen ningehang munyin
gamelan ane meduase luwung dugas ngae kanti mekelo nu pedingehang munyine dikupinge
apin gambelane sube sing megedig” artinya jika mendengar suara gamelan yang dibuat
berdasarkan hari baik maka sangat lama masih terdengar suaranya ditelinga, meskipun
gamelan tersebut sudah tidak dimainkan. Seperti pula ungkapan I Made Nik3 juga seorang
pande gamelan mengatakan “jering bine bulun kalonge ningehang gamelan ane meduasa
dugase ngae,”artinya bulu kuduk terasa bangun bila mendengar suara gamelan yang dibuat
berdasarkan hari baik. Kedua ungkapan ini sebenarnya memiliki makna bahwa gamelan yang
dibuat berdasarkan hari baik akan memiliki kekuatan yang bersifat magis.
Pemilihan hari baik dalam membuat trompong dimulai dari proses awal yaitu proses
pengeleburan yang disebut nuasen. Hari baik dalam memulai pembuatan gamelan adalah
meliputi hari: ayu nulus, kale geger, karma sula dan dauh ayu. Sedangkan hari yang dihindari
dalam nuasen atau membuat gamelan bertepatan dengan hari: sampar wangke, kale
bancaran, kale beser. Hari-hari tersebut dihindari karena hari tersebut berpengaruh buruk
terhadap pekerjaan, sering mengakibatkan hasil tidak bagus dan sering mengalami kegagalan
dalam bekerja.
Dalam proses nuasen dilakukan kegiatan persembahyangan dengan mengaturkan
sesaji berupa segehan brahma dan peras pejati pada pelinggih prapen yang terletak pada
posisi Timur atau Timur Laut di dalam sebuah prapen. Jika pembuatan gamelan atau
trompong sudah selesai dikerjakan biasanya dilakukan dengan mengaturkan upacara pemuput
yaitu nunas tirta yang diperoleh dari pelinggih prapen dan air bekas sepuhan krawang, serta
persembahan sesaji yang berupa: tebasan brahma, tebasan sidakarya, soroan suci, peras
pejati, jauman, dan segehan. Upacara ini bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur karena
pekerjaan sudah mencapai hasil yang diinginkan dan trompong yang sudah selesai dibuat
dikaruniai umur yang panjang dan bermanfaat dikemudian hari.
Tahap Peleburan
Setelah nuasen dilakukan tahap selanjutnya adalah tahap peleburan yaitu melakukan
pencampuran bahan, pencetakan atau membuat lempengan bundar/laklakan sebagai bentuk
awal atau bakalan trompong. Membuat laklakan terlebih dahulu dengan mengukur berat dari
masing-masing pecahan lempengan, dalam pembuatan trompong hanya dibuat sepuluh buah
lempengan karena mengingat jumlah Trompong Gong Kebyar hanya sepuluh buah pencon.
Peleburan diawali dengan mempersiapkan alat-alat yang dipakai dalam proses
peleburan seperti mempersiapkan tungku perapian. Tungku perapian biasanya mengalami
kerusakan setelah dipakai, maka setelah pemakaian tungku harus kembali diperbaiki. Hal lain
2 Berdasarkan keterangan I Wayan Widnya saat wawancara pada tanggal 20 Mei 2010 di Tihingan,
Klungkung, serta diperkuat oleh pengerajin di Desa Tihingan.
3 Berdasarkan wawancara dengan I Made Nik pada tanggal 25 Maret 2010 di Tihingan, Klungkung.




GAMBAR 11
Takaran krawang pecahan gamelan
(Foto: Budi Susilo)
yang dipersiapkan juga adalah : landasan dua buah, sebuah palu besi dengan berat 1,5 kg, 2
buah sepit besar, 1 pasang pemuput atau pompa angin, 1 pasang pengulik besar, potongan
kayu sebagai alas penghancur krawang dari gamelan bekas maupun yang berupa lempengan,
4-8 buah penyangkaan, 5 buah musa yang isinya 2,5-3,5 kg, arang secukupnya dan 1 liter
minyak kelapa.
Membuat laklakan trompong bisa mempergunakan krawang yang sudah jadi yaitu
berupa lempengan-lempengan atau gongso, maupun mempergunakan krawang yang berupa
pecahan gamelan yang dihancurkan dengan mempergunakan palu besi dengan berat 1,5 kg,
tetapi krawang sebelumnya di alub terlebih dahulu. Ngalub adalah memanaskan krawang
tanpa membuat krawang berubah warna menjadi kemerahan, melainkan untuk membuat
krawang menjadi setengah matang. Ngalub berfungsi membuat pecahan gamelan menjadi
renyah, sehingga mudah dihancurkan. Setelah krawang selesai dihancurkan langkah
selanjutnya adalah menghidupkan api untuk memanaskan musa. Musa diperlukan sebanyak
5 buah dalam tungku perapian atau prapen. Kemudian dilakukan penakaran dengan membagi
krawang untuk trompong yang jumlahnya 32kg dibagi menjadi sepuluh takaran yaitu berat
untuk ukuran trompong terkecil adalah 2,5kg. Untuk ukuran yang kedua beratnya adalah
2,6½kg yaitu dengan rumusan semakin besar ukuran trompong ditambahkan krawang
masing-masing 1,¼ons dari ukuran sebelumnya sehingga berat untuk trompong dengan
ukuran terbesar adalah 3,7½kg.
Dalam mementukan berat perkilogram krawang dipergunakan timbangan memakai
kepingan uang kepeng (pis bolong) yaitu jumlah 250 keping uang kepeng sama dengan berat
1kg krawang, namun dengan perkembangan jaman cara tersebuat sedikit-demi sedikit sudah
hampir tidak dijumpai karena sudah beralih mempergunakan alat timbangan yang lebih
praktis dan modern.
Jika takaran sudah tepat dan selesai dilakukan selanjutnya krawang dimasukkan
kedalam musa yang sudah dipanaskan didalam jalikan prapen. 1 takaran dimasukkan
kedalam 1 musa kemudian dipanaskan dan dibakar dengan mempergunakan arang batok
kelapa atau arang kayu selama kira-kira 90 menit atau paling lama sampai 2 jam sambil
beberapa kali diaduk mempergunakan sepit untuk mengetahui apakah krawang tersebut
sudah cair atau masih kental. Sambil menunggu krawang mencair dan matang disiapkan 5
buah penyangkaan yang kemudian diisi dengan minyak kelapa sambil dipanaskan. Kemudian
jika krawang sudah matang/wayah4 dengan ciri warna merah kekuningan dan krawang jika
disentuh dengan ujung pengulik terlihat cair seperti lelehan lilin maka keadaan ini disebut
dengan “anguleng andus”.
4 Wayah merupakan istilah yang dipakai pande gamelan untuk menyatakan keadaan krawang yang
sudah matang saat peleburan.





GAMBAR 12
Proses nuruh (Foto: Budi Susilo)
Krawang diangkat dan dituangkan/nuruh untuk dicetak kedalam penyangkaan dan
didiamkan sampai panasnya menghilang dan mengeras kembali, baru kemudian dikeluarkan
dari penyangkaan. Proses peleburan ini diulang kembali karena dalam membuat trompong
memerlukan 10 buah laklakan. Dikarenakan dalam 1 kali peleburan memakai 5 buah musa
maka hanya mampu dihasilkan 5 buah laklakan, maka proses ini diulang sebanyak dua kali.





GAMBAR 13
Laklakan tromping

(Foto: Budi Susilo)

·         Alasan Trompong  disebut sebagai alat idiophone

Karena menainkannya dengan cara dipukul







·         Cara memainkan
Satu tungguh trompong dalam barungan gong kebyar memiliki
sepuluh buah moncol/pencon yang merupakan nada ndang
rendah sampai nada ndung tinggi. Instrumen ini dimainkan oleh
seorang penabuh dengan dua tangan memakai panggul yang
disebut panggul trompong. Dalam sebuah barungan, instrument
ini berfungsi untuk pembawa lagu, juga membuka/pengawit
sebuah gending yang dalam barungan membawa melodi dengan
tekniknya tersendiri. Gagebug trompong sekar tanjung susun
namanya. Sistem ini adalah gambaran keindahan permainan
trompong yang dalam sub tekniknya seperti: Ngembat,
Ngempyung, Nyilih asih, nguluin, nerumpuk, ngantu, niltil, ngunda dan ngoret.

·         Tidak bernada

Ccntoh: Kendang




·         Cara membuat

Salah satu dari kendang tersebut yang memiliki tehnik permainan yang unik dan rumit adalah kendang bebarongan, yang dimana dalam mempermainkannya menggunakan sebuah
alat yang disebut panggul kendang, dan tehnik permainannya lebih banyak mempergunakan
tehnik mekendang tunggal. Disebut kendang bebarongan karena kendang ini khusus
digunakan untuk menyajikan gending-gending bebarongan dan dipergunakakan untuk
mengiringi tari barong. Kendang merupakan salah satu alat yang sangat penting dalam
Karawitan Bali. Istilah kendang telah disinggung dalam beberapa literatur yang berasal dari
tahun 821 dan 850 Masehi dengan istilah padahi dan muraba. Dalam prasasti bebetin yang
berasal dari abad ke-9, kendang disebut dengan istilah papadaha.
Satu diantara sembilan jenis kendang yang terdapat dalam Karawitan Bali bernama
kendang bebarongan. Kendang bebarongan adalah kendang yang secara khusus terdapat
dalam barungan gamelan bebarongan. Jenis kendang ini mempunyai panjang sekitar 62-65
cm, garis tengah tebokan besar berukuran 26-28cm dan garis tengah tebokan kecil sekitar
21,5-23cm. Kendang bebarongan ini termasuk dalam ukuran kendang yang tanggung
(nyalah: Bahasa Bali), karena ukurannya yang tidak terlalu besar maupun tidak terlalu kecil.
Ada dua cara untuk memainkan kendang bebarongan, yakni bisa dengan mempergunakan
panggul dan juga bisa dimainkan tanpa menggunakan panggul. Adanya jenis-jenis kendang
seperti tersebut diatas tidaklah luput dari peranan seniman-seniman yang mempunyai daya
kreatifitas tinggi dan suatu pemikiran kritis serta nilai seni tinggi yang disertai tahapantahapan
atau proses yang meski dilewati.
Langkah pertama yang dilakukan dalam pembuatan kendang bebarongan adalah
mencari dewasa ayu - - hari atau waktu yang baik agar mendapatkan keselamatan dalam
bekerja dan kendang yang diciptakan nantinya memiliki kwalitas yang baik. Yang diawali
dengan mencari waktu untuk menebang pohon yaitu sasih karo, kawulu dan kesanga yang
biasanya disebut sasih berag (kurus) yang biasanya menggunakan sesaji berupa canang sari
dan segehan. Setelah kayu dipotong maka tukang kendang akan mencari hari baik untuk
bekerja atau nuasen. Menurut informasi dari I Putu Gede Sula Jelantik, hari tersebut adalah
hari-hari yang jatuhnya bertepatan engan dewasa : karna sula, kala geger, aswajag turun dan
bojog turun. Setelah kendang itu selesai digarap lalu di upacarai yang disebut dengan istilah
ngupain atau masupati yang bertujuan untuk menghasilkan suara seperti yang diinginkan
sekaligus dapat dipergunakan dalam konteks upacara. Setelah semua prosesi ini terlewati
maka ada beberapa hal lagi yang harus dikerjakan seperti, membangun bantang dan nukub
kendang (memasang kulit kendang).
Kendang bebarongan memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan gamelan yang
lainnya. Gamelan bebarongan merupakan salah satu barungan gamelan Bali yang memakai
laras pelog 5 nada. Barungan gamelan ini terdiri dari : Sebuah kendang bebarongan, Dua
tungguh gender rambat dengan jumlah bilah 13 atau 14, Dua tungguh gender
barangandengan jumlah bilah 13 atau 14, Empat tungguh gangsa gantung pemade dengan
jumlah bilah 5 atau 6, Empat tungguh gangsa gantung kantil dengan jumlah bilah 5 atau 6,
Dua tungguh gangsa jongkok pemade dengan jumlah bilah 5 atau 6, Dua tungguh gangsa
jongkok kantil dengan jumlah bilah 5 atau 6, Dua tungguh jublag dengan jumlah bilah 5
atau 6, Dua tungguh jegogan dengan jumlah bilah 5 atau 6, Sebuah gong bebarongan,
Sebuah kemong, Sebuah klenang, Satu tungguh gentorag, Sebuah kajar, Satu pangkon cengceng,
Beberapa buah (4-5) suling, Sebuah rebab.
Masing-masing barungan gamelan diatas secara musikal memiliki fungsi tertentu
yaitu, kendang berfungsi sebagai pemurba irama, jublag dan jegogan sebagai pemangku
lagu, klenang, kemong dan kempur berfungsi sebagai pemberi tekanan gending pada
hitungan tertentu, gender rambat berfungsi sebagai penuntun gending berdasarkan melodi
pokok dan gender barangan untuk memberi ilustrasi berdasarkan melodi pokok,gangsa
pemade dan kantil berfungsi untuk memberi hiasan gending dengan bermain polos dan
sangsih, kajar berfungsi sebagai pemegang tempo dan pada bagian tertentu memberi
ilustrasi dan aksentuasi sesuai dengan pupuh kekendangan, cengceng berfungsi sebagai
peramu dan pemersatu instrumen lainnya serta memberi aksentuasi seperti aksen pada
kendang, suling dan rebab berfungsi sebagai pemanis lagu dan dimainkan juga secara
improviasi pada bagian tertentu struktur bapang barong maupun pada bagian lainnya.
Adapun tehnik yang harus diperhatikan oleh juru kendang didalam memainkan sebuah
kendang bebarongan yaitu, sikap duduk dalam bermain kendang, yaitu harus duduk bersila
dengan posisi kendang diatas paha. Bagian depan/muka kendang berada disebelah kanan.
Posisi kendang sejajar dengan bahu penabuh kendang. Posisi badan harus tegak dan perut
harus dikunci karena sumber tenaga berasal dari perut. Dengan posisi badan yang tegak dan
pandangan ke depan akan menambah kewibawaan seorang pemain kendang. Sikap bermain
kendang seperti ini disebut nogdog jejerih yang berarti mengejek musuh agar takut. Salah
satu hal yang harus diingat oleh setiap juru kendang khususnya dalam menabuh gendinggending
bebarongan adalah pada saat memukul kendang dengan mempergunakan panggul,
pada bagian muwa kiri ditutup sedikit agar mendapatkan suara kendang yang lebih tajam
dan tekes.
Dalam permainan kendang suara yang dihasilkan berbeda-beda, warna suara tangan
kanan dengan mempergunakan panggul yaitu dug, tek tep. Warna suara tanpa
mempergunakan panggul yaitu tep, cung, dag. Warna suara untuk tangan kiri yaitu pak dan
kung. Salah satu hal yang harus diingat oleh setiap juru kendang khususnya dalam menabuh
gending-gending bebarongan adalah pada saat memukul kendang dengan mempergunakan
panggul, pada bagian muwa kiri ditutup sedikit agar mendapat suara kendang yang lebih
tajam dan tekes. Dalam bermain kendang bebarongan biasanya pupuh kekendangan sangat
penting, yaitu berfungsi untuk menghasilkan suatu pola kekendangan khas bebarongan.
Pupuh dasar yang sering dipakai adalah jenis gilak yang sering disebut gilak bebarongan.
Buku yang berjudul Kendang Bebarongan Dalam Karawitan Bali Sebuah Kajian Organologi
ini sangat bagus dipergunakan sebagai media pembelajaran khususnya didalam belajar
bermain kendang bebarongan.



·         Alasan Kendang disebut sebagai alat idiophone

Karena menainkannya dengan cara dipukul


·         Cara memainkan

1 Tategak/Sikap
Sebelum memulai mempraktekkan bermain Nunggal Gupekan, tategak/sikap
pengendang menjadi hal yang harus dipahami betul karena bagaimanapun juga berpengaruh
terhadap kandungan estetika. Fase ini menjadi bahasan paling awal karena bermain kendang
tentu tidak hanya dinikmati secara audio saja, tetapi bagaimana seorang pengendang dapat
tampil secara performan di atas pentas sesuai dengan kaidah-kaidah tukang kendang.
Berdasarkan proses latihan/magang yang dilakukan tersebut, untuk memainkan
kendang Gupekan harus dipangku di atas paha dalam posisi duduk bersila dengan kaki kiri
berada di luar/di depan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat sesuai dengan gambar berikut.
Sikap kaki kiri di depan. Posisi ini jelas memiliki perbedaan dengan memainkan kendang
kakebyaran dengan posisi kaki kiri dilipat di depan. Alasan mengapa kaki kiri didepan,
karena dari sudut penempatan kaki akan membantu kendang tidak banyak bergerak, dan
posisi badan bisa lebih nampak gagah.
Posisi badan tegak lurus dengan pandangan serong kekiri kurang lebih 10 derajat.
Dengan posisi seperti itu disamping penampilan secara estetika menarik dan meyakinkan
juga dari segi memainkan alat tersebut tenaga akan dapat tersalur secara terkonsentrasi
sehingga pukulan yang dilakukan memiliki bobot kekuatan atau kualitas pukulan yang baik.
Tategak/posisi tersebut di atas merupakan satu jabaran yang telah disepakati dan berlaku
secara konvensional baik dalam lingkungan kampus maupun pada seniman-senimang yang
telah biasa memainkan instrumen kendang.
Salah satu pengendang yaitu Bapak I Wayan Suweca, SSKar. dalam suatu
kesempatan ketika mengajar mata kuliah Karawitan Spesialisasi (kendang) juga
mengungkapkan hal yang sama tentang posisi memainkan kendang Gupekan Nunggal. Suatu
keharusan posisi kaki kiri ditempatkan di depan karena memainkan kendang akan lebih
mudah dan secara tategak dapat tampil lebih bagus, menarik, memukau, dan tertata. Dengan
posisi demikian bunyi yang dihasilkan dapat mencapai kualitas jangkauan sesuai dengan
yang diharapkan.
2 Teknik
Berbicara masalah teknik dalam memainkan kendang tentu banyak komponen yang
luluh dan larut di dalamnya. Cakupan teknik tidak saja mengacu pada skiil dan kemampuan
memainkan kendang, melainkan juga merambah pada bagian-bagian yang tidak dapat
dipisahkan, antara lain mempertimbangkan warna suara, kemurnian pukulan (jelih), uletuletan
kedua belah tangan (caluh), ngunda bayu (mengontrol tenaga), mengolah sumber
bunyi, keseimbangan, maupun kekayaan motif yang dimiliki. Kompleksitas penguasaan yang
harus dimiliki tersebut jarang dikuasai oleh seorang pangendang. Saat ini menurut
pengamatan instruktur pengendang sebagian besar hanya mampu menerapkan sebagian
kecilnya saja.
Segi lainnya menyangkut peran pengendang yang harus menguasai jiwa
kepeminpinan. Mereka harus siap memfungsikan instrumen kendang sesuai dengan tugasnya
dalam barungan sebagai pemurba irama. Ibarat sopirnya sebuah mobil, pengendang juga
harus mampu mengatur sebuah gending sesuai kepentingan repertoar. Ketegasan dan
konsistensi pengendang dipertaruhkan ketika meminpin penampilan dalam pementasan
sebuah gending, ini berarti dimanapun aksentuasi-aksentuasi gending baik keras lirih,
pengaturan dinamika dan tempo menjadi tugas yang harus diselesaikan oleh pengendang. Jadi
bagian sub ini memiliki jangkauan bahasan yang sangat luas apabila diterjemahkan. Untuk
lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Warna Suara (Timbre)
Menjadi pemain kendang harus memahami suara yang dapat dimunculkan oleh media
alat yaitu kendang. Bagaimana posisi tangan yang benar ketika memainkan alat agar dapat
memunculkan suara yang diharapkan. Secara konvensional penguasaan ini sangat penting
karena dengan posisi tangan yang benar akan mendapatkan kualitas bunyi sesuai harapan.
Dalam kendang Gupekan Nunggal suara yang bervariasi sangat dipentingkan, karena
dapat menggaris bawahi adegan dan eksien yang harus diikuti secara terpadu. Bagaimana
membuat suara dug, pak, pung, cung, teng, dan lain sebagainya agar murni adanya. Kualitas
bunyi yang diharapkan tergantung dari bagaimana memberlakukan kendang tersebut
(memainkan) agar dapat memunculkan suara yang sesuai dengan harapan. Banyak
pengendang terkadang sangat sulit mengidentifikasi warna suara yang dimunculkan oleh alat
tersebut. Untuk itu warna suara kendang menjadi bagian yang harus di pahami secara benar
apabila keinginan untuk mendapatkan suara yang bervariasi.
b. Kemurnian Pukulan (Jelih)
Maksud dari sub ini tidak lebih dari kemurnian pukulan yang dihasilhan. Posisi kedua
belah tangan (kanan dan kiri) harus sesuai dengan kaidah yang ada. Memukul kendang tidak
tepat pada diameter (mua) maupun pada pak (tangan kiri) kendang akan memunculkan suara
yang tidak bagus atau sesuai dengan yang diinginkan, karena getaran selaput (kulit) tidak
merata dan tidak seimbang sehingga memunculkan suara yang tidak menyatu (pulung).
Untuk mencapai kemurnian suara kendang, menurut instruktur seharusnya kembali
ditekankan terhadap kemampuan/skiil pengendang sendiri, tetapi harus terus mencari
jawaban atas teknik yang betul-betul dapat mencapai kualitas bunyi yang diharapkan. Dalam
tataran praktek penekanannya terletak pada kebiasaan untuk mencari suara yang sebenarnya
dengan mempertimbangkan jangkauan alat yang dipakai. Sedapat mungkin media harus
diperhitungkan seberapa kekuatan pukulan harus dilakukan agar media alat dapat
memunculkan suara yang sesuai. Tentunya kembali harus mempertimbangkan rasa yang
dimiliki oleh pengendang bersangkutan. Karena tidak jarang ditemukan pengendang yang
hanya memainkan kendang dengan mempergunakan tenaganya tanpa mempertimbangkan
kekuatan sumber bunyi alat yang dipergunakan.
Kemurnian pukulan (jelih) dapat dicapai apabila segala ketentuan-ketentuan tersebut
di atas dapat dilakukan secara baik dan benar dengan dua aspek yaitu kemampuan teknik
pengendang baik internal maupun eksternal dan media alat yang dipergunakan. Secara
internal mengarah pada kemampuan individu yang cenderung pada kemampuan teknik,
sedangkan eksternal menyangkut konteks yang menyertai dari luar diri pengendang baik
respon terhadap lingkungan, repertoar yang dibawakan, situasi, ruang, dan waktu.
c. Kekayaan Motif
Sebagai pengendang harus kaya akan motif. Dengan kekayaan motif yang dimiliki
dapat menghasilkan suara yang bervariasi. Aksentuasi-aksentuasi yang dilakukan seharusnya
didasarkan atas kepekaan pengendang dan kekayaan motif yang dimilikinya. Karena tanpa
kekayaan motif tersebut berpengaruh terhadap variasi bentuk kendangan yang cenderung
hasilnya sangat monotun dan miskin. Betapa tidak, sering terjadi pemain kendang yang
kurang memiliki variasi pukulan sehingga berdampak terhadap tampilan pertunjukan yang
kurang menarik dan kurang greget.
Disamping beberapa motif dapat menggaris bawahi dan mendukung tampilan
pementasan, kurang pekanya pengendang membaca situasi pentas terhadap apa yang
diiringinya, juga berpengaruh terhadap keutuhan dan warna repertoar yang dibawakan.
Penampilan pengendang dalam mengiringi sebuah pementasan sering terlihat kaku dan
kurang menyatu dan utuh karena pengendang sendiri sering penerapan mitif-motif tidak
disertai oleh daya improfisasi yang memadai. Tarian yang mendominir musik seperti
mengiringi tari jauk, topeng, barong, baris, dan lain sebagainya, terkadang pengendang salah
tafsir terhadap apa yang diiringinya. Kekayaan motif tidak selamanya menjamin dapat
mengikuti aksentuasi-aksentuasi yang dilakukan penari. Oleh sebab itu kekayaan motif dan
daya imfrofisasi, kecerdasan, tanggap terhadap situasi (celang) sangat penting diketahui
ketika memposisikan diri sebagai pengendang.
d. Ulet-Uletan Kedua Belah Tangan (Caluh)
Maksud dari sub ini mengarah pada keseimbangan tangan antara tangan kanan dan
tangan kiri. Keseimbangan tangan dapat terjadi apabila keduanya dapat terjalin dan
berkomunikasi secara seimbang. Ketika tangan kanan difungsikan atau sebaliknya tangan kiri
dimainkan ada semacam tali kendali atau komunikasi yang terjalin sehingga intensitas kedua
belah tangan seimbang dan terkontrol. Bagaimana memainkan kendang agar kedua belah
tangan dapat saling menguasai dan seimbang ?. Ini permasalahan yang harus dicari
jawabannya.
Kesan ringan dan caluh muncul apabila kedua belah tangan dapat dimainkan secara
seimbang dengan mengacu dasar-dasar yang diterapkan dalam memainkan kendang
sebelumnya. Pencarian ulet-uletan yang baik dan seimbang menjadi titik tolak yang perlu
mendapatkan penekanan oleh masing-masing pengendang. Apabila aspek ini tidak tercapai,
maka kualitas bunyi dan penampilan akan kurang bagus dan menarik.
e. Ngunda Bayu.(tenaga terkontrol)
Tidak jarang kita temukan pengendang yang hanya mampu mempertahankan
intensitas pukulan dan suara kendang hanya setengah dari repertoar yang ditampilkan. Situasi
ini dikarenakan akibat dari pengendang yang kurang mengkontrol tenaganya secara baik dan
terkendali ketika memainkan gending. Seperti contoh memainkan kendang cedugan tunggal
pada gending tari bapang barong. Apabila tukang kendang tidak ngunda bayu atau
mengkontrol tenaganya secara hati-hati maka akan terjadi penurunan kekuatan pukulan
apalagi tempo yang cepat sedikit menemukan kendala terhadap pupuh kakendangannya
sehingga gending yang dibawakan juga terjadi penurunan tempo dan mengurangi karakter
lagu.
Jadi permasalahannya bagaimana memposisikan diri sebagai pengendang agar dari
awal sampai akhir dari sebuah pementasan dapat mengkontrol tenaga secara terkendali
sehingga intensitas pukulan dapat secara ajeg dipertahankan sampai akhir lagu/pementasan.
f. Mengolah Sumber Bunyi
Menjadi tukang kendang/pengendang tidak hanya tahu memukul saja, melainkan
dapat juga mengolah sumber bunyi yang ada pada kendang. Teknik pengolahan ini sangat
berdampak pada kualitas capaian bunyi yang diinginkan. Semua komponen pendukung yang
ada untuk mencapai suara yang diinginkan harus dikuasai seperti bagaimana mengencangkan
kendang, mengendorkannya, mengolah sompe dan lain-lainya. Apabila keadaan kendang
terlalu kering atau lembab bagaimana cara mengatasinya, atau sebaliknya bagaimana dapat
membedakan suara kendang antara kendang lanang dan wadon. Sering terjadi kesalah
pahaman kendang lanang yang dipaksakan dikendorkan menjadi kendang wadon atau
sebaliknya, sehingga secara fisik tidak memungkinkan dapat memunculkan kelayakan suara.
Dengan demikian menjadi tukang kendang/ pengendang harus diikuti juga oleh kemampuan
dan kepekaan mengolah sumber bunyi yang secara langsung harus mengerti dan tanggap
terhadap keadaan fisik instrumen kendang itu sendiri.
g. Rasa.
Menurut instruktur, rasa menjadi hal pokok yang kedua setelah penguasaan teknik.
Apabila teknik telah dapat diterapkan secara baik dan benar, niscaya rasa akan mengikuti
secara perlahan. Biasanya kandungan rasa terkait dengan rasa personal pengendang dan rasa
hasil dari suara yang dihasilkan oleh alat menjadi satu kesatuan secara bersama dan muncul
setelah penerapan teknik dilakukan. Diakui bahwa ketika suara kendang dirasakan oleh
pemain sendiri telah enak dan bagus, maka dipastikan audien memiliki rasa yang sama. Atau
nilai rasa sebenarnya muncul dari rasa secara personal pada diri pengendang.
Sesuai dengan program yang telah dijalankan dalam program ini, dapat dibahas
beberapa hal penting dalam penguasaan kendang Gupekan nunggal. Disadari betul bahwa
penguasaan teknik dimaksud tidak saja hanya dapat dipraktekkan semata, tetapi bagaimana
menterjemahkannya dalam berbagai konteks yang ada. Beberapa yang dapat diungkap antara
lain: